Feeds:
Tulisan
Komentar

Photo Effects

Drs H. Dudun Abdullah SQ. MM

BAGI masyarakat Cianjur, nama Dudun kini sudah tidak asing lagi, dia dikenal akrab oleh seluruh lapisan masyarakat, baik para Ulama, aktivis organisasi, Mahasiwa, Pemuda, LSM, Pers, Budayawan bahkan masyarakat kecil yang tersebar hatinya untuk selalu memperjuangkan kepentingan masyarakat Cianjur.di pedesaan. Keakraban ini, antara lain dilatarbelakangi oleh tekadnya yang kuat serta ketulusan hatinya untuk selalu memperjuangkan kepentingan masyarakat Cianjur. Ingin tahu bagaimana kiprah dan sosok seorang Asisten Bidang Keuangan dan Pendayagunaan Aparatur ini, berikut petikan wawancara reporter Harian Seputar Indonesia Ricky Susan dengan Dudun Abdullah.

Motivasi apakah yang melatar belakangi perpindahan anda dari dunia swasta ke dunia birokrasi ?

Bukan karena untung dan rugi juga bukan karena besar dan kecilnya pendapatan jika dibanding dengan pendapatan sebelumnya (padahal pendapatan sebelumnya 20 kali lipat lebih besar jika dibanding dengan pertama kali memasuki dunia birokrasi). Namun justru saya harus bersyukur atas kemurahan Allah yang telah banyak memberikan kenikmatan duniawi selama berada di Negeri orang. Salah satu cara syukur yang terpikir dalam benak saya pada saat itu adalah kembali ke daerah asal kelahiran untuk mengabdikan diri kepada masyarakat ikut serta berjuang memajukan jawa barat pada umumnya, dan Cianjur tempat kelahiran saya pada khususnya.

Hanya saja, bertepatan dengan saatnya saya kembali, secara kebetulan Pemerintah Provinsi jawa Barat pada saat itu memberikan kepercayaan kepada saya untuk memanfaatkan disiplin ilmu yang saya miliki melalui jalur birokrasi, yaitu selama tiga tahun setengah bertugas di Gedung Sate, sebelas Tahun pada Pemerintah Kabupaten Sukabumi dan kini berjalan sepuluh tahun saya mengabdi di daerah sendiri melalui Pemerintah kabupaten Cianjur.

Lalu, Apa yang mendorong  anda kembali ke daerah sendiri ?

Di samping rindu kampung halaman, sebenarnya tidak banyak yang saya inginkan, kecuali Cianjur dan masyarakatnya semakin hari semakin maju, tidak hanya kemajuan dalam sisi fisik material, akan tetapi  yang lebih penting lagi adalah kemajuan  peradaban yang diwarnai dengan nilai nilai ajaran Ilaahi, yang ditandai dengan semakin meningkatnya perilaku masyarakat yang berkualitas dan berakhlakul karimah, serta kehidupan masyarakat kabupaten Cianjur yang sejahtera, aman, damai, tentram, penuh barokah dan ridlo Allah SWT.

Tekad pertama saya kembali ke Cianjur, saat itu sebenarnya bukan lagi mau memasuki dunia birokrasi, akan tetapi setelah sekian lama berpetualang di daerah lain, hati saya benar benar murni terpanggil semata mata ingin mengabdikan diri untuk kepentingan masyarakat di kampung halaman sendiri.

Melepaskan diri dari dunia birokrasi bukan berarti melepaskan diri dari pengabdian, akan tetapi justru ingin lebih mempertajam nilai nilai pengabdian yang lebih murni, dengan harapan nilai manfaatnya lebih besar dari pada madlorotnya. Menjadi Pegawai Negeri  sebenarnya tidak pernah menjadi cita cita, karena di samping penuh dengan teka teki, juga karena telah sekian lama saya berkiprah di dunia swasta, bahkan di saat itu saya sudah merancang membuat lapangan kerja baru bagi generasi generasi bangsa yang memiliki potensi dan profesi yang belum tersalurkan. Cita cita ini pun tidak pernah terhenti sampai saat ini, hanya saja laju pertumbuhannya sedikit agak lamban, karena saya sendiri konsentrasinya harus terbagi  dengan tugas tugas kedinasan sejak pertama diberikan kepercayaan sebagai Pegawai Negeri oleh Pemerintah Provinsi Jawa barat.

Jabatan apakah yang paling anda sukai dalam dunia birokrasi ?

Soal itu, buat saya penting dan tidak penting, karena sangat tergantung pada sejauh mana kita dapat memanfaatkan jabatan tersebut  untuk menjembatani kepentingan Ummat. Tapi yang jelas, kita sebagai Ummat beragama tidak boleh tibabaranting (nafsu serakah) mengejar ngejar jabatan, apalagi harus ditempuh dengan cara tendang sana sikut sini, serta menghalalkan berbagai macam cara, karena dengan cara tersebut berarti mengisyaratkan adanya niat yang tidak terpuji, sehingga mengakibatkan banyak orang yang tidak bersalah menjadi korban, dan pada akhirnya sampai kapan pun peran kita tidak akan pernah menghasilkan kemajuan yang diharapkan oleh masyarakat.

Jika kehadiran kita dalam sebuah organisasi hanya mementingkan status dan posisi yang diduduki, maka sampai kapanpun tujuan umum organisasi tidak akan pernah tercapai, bahkan tanpa disadari secara perlahan lahan dapat menyeret para penyelenggara organisasi kepada jurang kehinaan. Naudzubillaahi min dzaalik.

Bagi saya, jabatan/kekuasaan bukanlah sebuah tujuan yang harus diperebutkan, melainkan sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan, dan seyogiannya dimanfaatkan sebagai jembatan untuk mencapai tujuan, sehingga mampukah kita menyebrangi jembatan tersebut dengan baik dan benar,cepat, tepat juga selamat sampai tujuan, dan yang terpenting lagi memperoleh hasil yang dapat memberi  manfaat bagi kepentingan Ummat. Dengan demikian, setinggi apa pun jabatan yang diduduki tidak akan pernah berarti sama sekali apabila kita tidak pernah mengerti dan  memahami posisi untuk difungsikan  dalam mencapai tujuan hakiki. Sebaliknya, sekecil apa pun jabatan yang diamanatkan, sepanjang jabatan tersebut ditempatkan sebagai amanah yang dapat memberi manfaat, Insya Allah akan memiliki nilai yang sangat tinggi di atas jabatan yang tertinggi.

Bagaimana pandangan anda tentang Cianjur saat ini ?

Cianjur dengan jumlah penduduk kurang lebih dua koma satu juta jiwa, mayoritas dari mereka sebagai  pemeluk agama Islam, bahkan sejak dulu Cianjur dikenal dengan julukan kota santri, keseharian hidup masyarakatnya pada saat itu sarat dengan berbagai aktivitas keagamaan, suasana siang dan malam menggambarkan sebagai kota religi. Sejalan dengan perkembangan situasi, derasnya arus informasi dan teknologi serta gebyarnya era globalisasi, tanpa disadari telah berpengaruh besar terhadap  pola, sikap, prilaku dan gaya hidup masyarakat Cianjur. Meskipun saya yakin , sebagian besar dari mereka, secara individu  telah memiliki pertahanan yang kuat  untuk  menangkal  berbagi hal yang berpengaruh negative terhadap dirinya. Namun secara umum, diakui atau tidak Cianjur masa kini telah mengalami perubahan dalam berbagai sisi, sehingga gambaran kehidupan masyarakat yang religi sudah semakin tidak Nampak lagi.

Program apa saja yang  anda anggap prioritas, untuk segera dilakukan dalam menghadapi kondisi Cianjur saat ini ?

Sebenarnya banyak Program prioritas yang  harus dilakukan dalam menghadapi situasi Cianjur  saat ini. Namun, menurut hemat saya  bukanlah suatu hal yang aneh jika Pemerintah menempatkan  Program pembangunan masyarakat berakhlakul karimah sebagai prioritas utama Program pembangunan, sehingga dapat membentengi program program lainnya dengan nilai nilai kebenaran. Bahkan merupakan suatu kewajiban bagi penguasa untuk menggerakkan, menggiring dan mengarahkan kepada Ummat/masyarakatnya menuju jalan yang benar sesuai petunjuk  Allah SWT, tentu saja harus diawali dengan Suri tauladan/uswatun hasanah dari penguasa itu sendiri. karena pembangunan yang hendak kita capai tidak sekedar untuk memperoleh kemajuan yang bersifat lahiriyyah (fisik material) semata. Namun ada hal yang lebih penting dari semua itu, yaitu tercapainnya kemajuan yang dipenuhi barokah dan diridloi oleh Allah SWT.

Menurut anda, mungkinkah Program terbut dapat berhasil ?

Sepanjang kita berusaha memanfaatkan potensi anugrah Ilaahi, Insya Allah kita akan mendapat petunjuk jalan terbaik dariNya, karena masyarakat Cianjur, sesungguhnya memiliki potensi yang sangat besar untuk mewujudkan kemajuan dalam dua sisi tersebut (lahir&bathin). Dengan potensinya, masyarakat Cianjur harus tetap optimis untuk menggapai sebuah keberhasilan, karena potensi adalah anugrah Ilaahi yang harus difungsikan sesuai kehendak pemberiNya. Namun dengan segala keterbatasannya, kita harus tetap menyadari, bahwa setinggi apapun tingkat kemampuan manusia tak akan ada seorangpun yang sanggup mencapai hasil pada tingkat kesempurnaan, semuanya serba relative, tidak ada kebenaran mutlak dari apa yang diekspresikan melalui pemikiran, ucapan dan segala tindakan manusia, yang mutlak hanyalah kebenaran hakiki anugrah Ilaahi. Karena itulah, maka segala aktivitas dan perjalanan hidup manusia tidak boleh lepas dari memohon petunjuk Ilaahi, baik dalam aktivitas pribadi maupun organisasi.

Untuk mengembalikan Cianjur pada jati diri yang sebenarnya, yaitu Cianjur yang sugih Mukti Tur Islami, diwarnai dengan lingkungan yang bersih, alamnya indah mempesona, kehidupannya tertib, aman dan penuh perdamaian disertai barokah dan Ridlo Allah SWT. Sesungguhnya banyak factor pendorong (kekuatan & peluang) untuk mewujudkan Cianjur ke arah itu. Yaitu, di samping telah adanya Peraturan Daerah tentang Gerbang Marhamah, tersedianya anggaran, sarana prasarana, dan potensi alam yang melimpah, juga tersebarnya potensi mayoritas Ummat Islam disertai tekad kuat untuk memajukan Cianjur, besarnya investasi Ummat islam (masyarakat Cianjur) dalam APBD, banyaknya jumlah Alim Ulama/Tokoh agama/Tokoh masyarakat yang arif dan bijaksana serta ditunjang dengan banyaknya jumlah Sarana prasara keagamaan/lembaga keagamaan/Lemabaga Pendidikan agama Islam dan banyak lagi yang lainnya. Semua itu, menunjukkan masih adanya sebuah harapan menuju perbaikan sesuai dengan cita cita masyarakat Kabupaten Cianjur.

Demikian besar potensi yang dimiliki untuk memajukan Kabupaten Cianjur, namun ternyata sampai saat ini masih belum menunjukkan adanya kemajuan, menurut anda kekuatan apakah sebenarnya yang menjadi kunci untuk mencapai keberhasilan tersebut ?

Untuk menggerakkan semua potensi tersebut, tentunya diperlukan adanya komitmen kuat dari  seorang pemimpin yang memiliki kewenangan tertinggi di Kabupaten Cianjur, serta memiliki ketulusan untuk menjalankan amanah dalam memperjuangkan kepentingan orang banyak dengan niat semata mata ibadah kepada Allah. Jika cita cita kita ingin tercapai, menurut hemat saya, tugas pertama kita ke depan adalah mencari dengan teliti dan pengamatan yang cermat seorang  figure yang jujur,amanah,pintar, komunikatif, dan ikhlas dalam memperjuangkan kepentingan rakyat, untuk  dicalonkan dan dipilih oleh kita menjadi seorang pemimpin. Untuk itu, tentunya perlu adanya upaya penyebaran pemahaman dan pendewasaan masyarakat  tentang arti pentingnya seorang pemimpin yang memiliki criteria sebagaimana dimaksud tadi,  karena sesungguhnya yang membutuhkan pemimpin adalah kita juga, bukan para calon pemimpin yang mencari dan membutuhkan dukungan kita, apalagi dengan menghalalkan berbagai macam cara, karena biasanya orang yang mencari adalah orang yang butuh, sedangkan orang yang butuh adalah orang yang ambisi dan  orang yang ambisi biasanya orang yang menempatkan kepentingan tertentu di atas kepentingan orang banyak, pada akhirnya sepanjang perjalanan aktivitasnya  selalu dilingkari dengan tarik menarik kepentingan ( mungkin sekedar mengingatkan, bahwa bagi orang yang ikhlas akan sangat berat menerima amanah sebagai pemimpin, bahkan mungkin menolaknya, kecuali  ummat benar benar membutuhkannya dalam mengemban amanah tersebut ).  jika hanya  sepinas melihat pendapat saya ini, tidak mustahil ada pihak tertentu yang mengatakan terlalu kuno dan tidak sesuai lagi dengan perkembangan / kemajuan IPOLEKSOSBUD saat ini, sebenarnya  dalam beberapa hal saya juga sependapat dengan  pihak pihak yang jika memiliki pandangan tersebut . Namun sesungguhnya, kecenderungan yang berlebihan untuk menganut kepada pola dan gaya yang berlaku  saat ini, tidak menutup kemungkinan  terjadinya kemunduran terus menerus dan tidak mustahil menjadi penyebab terjadinya kehancuran yang  tanpa disadari. Tugas  yang kedua , setelah kita memilih pemimpin, adalah menyelamatkan pemimpin yang telah menjadi pilihan kita, jangan sampai  menjadi korban ancaman dari pihak pihak yang mempunyai kepentingan tertentu, sehingga pada akhirnya perjuangan untuk rakyat terputus di tengah jalan. Mudah mudahan ungkapan saya ini ada manfaatnya, minimal dapat mengingatkan diri pribadi  tentang keadaan yang sedang terjadi saat ini, berbagai peringatan dari Allah, seyogianya dapat membukakan   pintu hati kita untuk bangkit menelusuri perjalanan hidup ini sesuai dengan aturan Allah, dalam berbagai aktivitas menempatkan kekuatan Ilaahi pada tingkat tertinggi di atas potensi kita yang hanya sedikit pemberian dari Allah SWT.

Kita sepakat, agar Cianjur di kemudian hari terasa semakin maju, muncul di tengah tengah kita generasi yang berkualitas dan berakhlakul karimah, mampu menghadapi tantangan dan ancaman serta terbebas dari segala bentuk kemaksiatan. Demikian pula masyarakatnya hidup dalam keadaan sejahtera, ayem tentrem kerta raharja penuh dengan limpahan rahmat dan karunia Pencipta alam.

Bagaimana respon anda terhadap maraknya opini dan kehendak beberapa komponen masyarakat yang mendorong dan mencalonkan anda sebagai Pemimpin tertinggi (Bupati/Wakil Bupati) Cianjur periode 2011-2016 ?

Jika hal itu benar benar merupakan keinginan yang tulus dari warga masyarakat Cianjur , tentu saja saja saya akan sangat menghormati dan menghargainya sekaligus mengucapkan terima kasih yang sedalam dalamnya atas kepercayaan semua pihak kepada saya. Namun terus terang, sampai saat ini saya belum pernah terpikirkan tentang hal itu, apalagi terobsesi dengan hal hal yang belum pasti dan membuat saya lupa diri. Bahkan yang selalu saya renungkan sekarang adalah, sudah sejauh manakah saya telah mampu menjalankan amanah Allah melalui tugas yang sedang saya emban saat ini, apakah kehadirina saya melalui Pemerintah Kabupaten Cianjur sudah memberi  manfaat kepada rakyat atau belum ? sehingga menuntut diri saya untuk terus berkonsentrasi memperbaiki diri dengan berupaya meningkatkan kerja nyata sesuai kewenangan yang saya miliki, saya ingin pada tahun terakhir babak/periode kepemimpinan yang sedang berlangsung saat ini dapat berjalan dengan baik dan lancar sesuai harapan masyarakat Cianjur. Dalam benak saya hanya terpikir, bagaimana caranya Cianjur ke depan lebih maju terlepas siapa pun yang menjadi pemimpinnya. Terkait dengan calon pemimpin Cianjur ke depan, Saya hanya mengatakan, Seandainya ada di antara kandidat Cabup/Cawabup yang dengan ikhlas karena Allah semata mata hanya ingin memperjuangkan Cianjur lebih maju serta menggerakkan/membimbing masyarakatnya menuju keselamatan dunia dan akhirat dalam ridlo Allah SWT, maka sebagai salah seorang warga masyarakat Cianjur, tentu saja akan sangat merasa bahagia dan bangga, dan dengan ikhlas pula saya akan mendorong sepenuhnya  serta  membantu sesuai dengan kemampuan saya kepada siapa pun yang memiliki cita cita mulia tersebut.

Sejauh mana dan dengan cara apakah anda akan membantu para pemimpin yang akan memperjuangkan rakyat  Cianjur ?

Dudun menjawab, dengan segenap potensi yang saya miliki ( jika ada harta dengan harta, jika ada  ilmu dengan ilmu pula ). Kesungguhan dudun untuk mewujudkan harapan masyarakat Cianjur tersebut, ia selalu berusaha berbuat yang terbaik untuk masyarakat, baik secara pribadi maupun melalui berbagai tugas yang diamanatkan kepadanya.Hal menarik dari dudun adalah, bahwa di tengah tengah kesibukan menjalankan tugas kedinasannya, ia pun tidak pernah berhenti belajar dan menuntut ilmu. Menurut keterangan yang diterima oleh redaksi, pada saat ini  sebenarnya Dudun telah menyelesaikan Studi Program Doktornya di bidang Ilmu komunikasi pada salah satu Universitas Negeri ( tinggal menunggu jadwal sidang promosi saja). Namun karena tekadnya yang kuat untuk ikut serta memajukan Cianjur, dia tidak pernah merasa puas dengan memiliki satu disiplin ilmu saja, tapi terus menggali dan menggali berbagai macam ilmu, dan termasuk pada saat ini ia pun kembali belajar mendalami  ilmu Pendidikan Agama Islam Strata 3 ( S3 ) pada Universitas Islam Negeri bandung.

Lalu, alasan apa saja anda terus belajar ?

Buat saya belajar bukan untuk mencapai gelar, tetapi memang  benar benar butuh dengan ilmu, dan ilmu harus dicari dan digali sepanjang nafas kita belum berhenti. Tujuan penting dari belajar adalah penguasaan terhadap ilmu yang dipelajari, saya mendalami ilmu agama karena sangat membutuhkannya, agar saya mampu menjadi insan yang beriman dan bertaqwa  serta selalu siap ,mengamalkan ajaranNya, juga kehadiran saya di daerah sendiri dapat memberi  manfaat kepada ummat serta mampu menjalankan amanah yang berat ini sesuai keinginan masyarakat dan kehendak Sang Pencipta.

Kita telah maklum, bahwa masyarakat Cianjur mayoritas penduduknya beragama Islam. Saya sangat berharap, sekecil  apa pun kewenangan yang saya miliki pada Instansi Pemerintah, harus memiliki nilai yang sangat tinggi di atas jabatan yang tertinggi, bahkan apa saja yang saya lakukan dapat seiring sejalan bersama sama masyarakat untuk menciptakan sebuah kemajuan Cianjur  yang Baldatun Thoyyibatun warobbun Gofuur. Makanya, dengan  terus belajar, minimal saya dapat meperbaiki sikap dan prilaku saya menuju jalan yang sesuai dengan Tatanan Syari’at Islam (memiliki kualitas iman,ilmu dan amal).Insya Allah. (ricky susan)

===***====

Ilmu Harus Terus Dicari Sampai Akhir Hayat

TUNTUTLAh ilmu Hingga ke Negri China, itulalah pepatah yang sering dilontarkan Dudun Abdullah, seorang putera daerah kelahiran Cianjur tanggal 02 april 1964 ini, yang sekarang menjabat sebagai Asisten Bidang Kesejahteraan Rakyat, setelah sebelumnya menjabat pula sebagai Asisten Bidang Keuangan dan Pendayagunaan Aparatur pada Pemerintah Kabupaten Cianjur.

Banyak asan garam yang telah dicicipi Dudun sepanjang perjalanan aktivitas hidupnya, jauh sebelum memasuki dunia birokrasi, di saat mengenyam pendidikan trata l dan ll, tidak henti hentinya dirinya beraktivitas dalam berbagai organisasi kemahasiswaan dan kemasyarakatan, mulai dari organisasi intra kampus, ekstra kampus sampai organisasi kedaerahan termasuk di dalamnnya sempat menjadi Ketua Umum dalam dua periode pada organisasi Keluarga Mahasiswa Jawa Barat, di Jakarta.

Selain itu, dia juga sempat menjadi staf pengajar pada beberapa Perguruan Tinggi di Jakarta, juga tidak ketinggalan dalam waktu yang tidak singkat, dia pun sempat memegang peranan penting pada sebuah Perusahaan Swasta di Jakarta.

Diantara menjalankan tugas kedinasan yang cukup padat, tidak mengenal batasan waktu siang dan malam. Sesekali di saat senggang waktu, Dudun  juga berusaha menyempatkan diri untuk berinteraksi dengan berbagai komponen, terutama dengan para tamu yang bersilaturrahmi ke rumah.

“Sesekali saya juga menyempatkan diri melepas kerinduan bersama teman teman lama sewaktu SD di kampung halaman. Kegiatan lain yang saya lakukan  di malam hari kadang kadang memenuhi undangan ceramah keagamaan pada kegiatan Hari hari Besar Islam yang diselenggarakan oleh masyarakat,” ungkap Dudun, dalam percakapan dengan seputar indonesia , beberapa waktu lalu.

Di samping semua itu, menurut Dudun, ada lagi program yang paling penting, yakni menyiapkan generasi-generasi muslim yang berkualitas dan berakhlakul karimah. Melalui Lembaga Pendidikan yang dikelolanya saat ini, Dudun ingin menciptakan Lembaga Pendidikan Islam yang mandiri, berdiri dengan kekuatannya sendiri tanpa menggantungkan atas belas kasihan orang lain.

“Artinya penyelenggaraan pendidikan dapat dibiayai dari hasil usaha yang dikelola secara professional oleh lembaga khusus di bawah naungan Yayasan, sehingga dapat memperlancar proses belajar mengejar pada Lembaga Pendidikan tersebut,” ujarnya.

Sejak Lembaga pendidikan ini berdiri hingga saat ini, terus berkembang dengan kekuatannnya sendiri  tanpa mengandalkan bantuan dari pihak mana pun termasuk bantuan dari Pemerintah Kabupaten Cianjur.

“Saya ingin berusaha membuktikan bahwa Islam itu bisa maju dan berwibawa, bahkan ke depan saya punya cita cita Lembaga ini juga bisa membantu dan melindungi Lembaga Lembaga Pendidikan lainnya yang ada di Kabupaten Cianjur, bahkan saya sangat berharap semua Lembaga Pendidikan di Kabupaten Cianjur dapat saling menaungi dan melindungi dalam satu jaringan kekuatan secara utuh dan menyeluruh, demi lahirnya generasi generasi Cianjur yang berkualitas dan berakhlakul karimah,” ungkapnya.

Nama Lembaga  yang  dikelolanya adalah Kampus Ahad Family Nurur Wathan disingkat (AFWAN), yang sampai saat ini sudah berlangsung kurang lebih 20 tahun, jenis pendidikan yang sudah berjalan, antara lain Taman Kanak Kanak, MD, TPA, TKA, TQA, Pondok Al-Qur’an, Majlis Ta’lim, Biro konsultasi, Sanggar seni, Teater dan lain lain. Khusus untuk jenjang pendidikan.

Menurut Dudun, sebelum mendirikan pendidikan pada tahap yang lebih tinggi (SLTP,SMU/SMK dan Perguruan Tinggi yang sedang dirancang), dia ingin memperkuat dulu tahapan yang sedang berjalan, agar tetap berdiri dengan kokoh sampai kapan pun. Berbicara masalah prestasi mungkin terlalu banyak kalau dirinci, jelasnya, prestasi yang telah dicapai Nurul wathan

“Mungkin cita cita ini pertumbuhannya masih terasa lambat, karena konsentrasi saya masih harus terbagi, yang semula saya ingin melepaskan diri dari dunia birokrasi, namun karena masih terikat dengan sumpah Pegawai Negeri, saya pun harus tetap menghormati dan menjunjung tinggi Peraturan yang berlaku serta pandai pandai mengatur waktu dengan sebaik baiknya,” tuturnya.

Prestasi Kampus Ahad Nurur Wathan sudah dapat diperhitungkan pihak lain, baik pada Tingkat Kabupaten, Provinsi maupun Nasional. (ricky susan)

===***===

Biodata Drs H. Dudun Abdullah SQ. MM

Nama                           : Drs H. Dudun Abdullah SQ. MM

Tempat,Tgl. Lahir         : Cianjur 2 April 1964

Jabatan                         : Asda Bidang Keuangan dan Pendayagunaan Aparatur

Sekretaris Daerah Kabupaten Cianjur

Agama                         : Islam

Alamat Rumah              : Jl Halma No 31, Bojong, Desa Sabandar, Karang tengah,

Cianjur

Nama Istri                    : Hj N. Erie, SF

Nama Anak                  : Andini Septia SL

: Annida Fitria

Riwayat Pendidikan :

* SDN Bojong I Karang Tengah, Cianjur (Tahun 1977)

* SMP Islam Al-Ianah Cianjur (Tahun 1980)

* MA Pon Pes al-Masthuriah, Sukabumi (Tahun 1983)

* Fakultas Syariah, Perguruan Tinggi IQ, Jakarta , SI (Tahun 1986)

* Fakultas Ilmu Komunikasi Informatika MAN, Jakarta , SI (Tahun 1988)

* Kajian Islam IAIN Jakarta , Program Pasca Sarjana (S2) (Tahun 1991)

* S2 Managemen Sumber Daya MAnusia Universitas Styia Gajah Mada (Tahun

1995)

* S3 Pendidikan Islam UIN SGD (Sedang Berlangsung)

===***===

Komentar Mereka

Ketua MUI Kabupaten Cianjur, KH. Bukhori H.S

Sosok Dudun merupakan tipe orang yang tidak ambisi dalam jabatan. Sikapnya yang ramah, baik dan selalu rendah hati ini membuat Dudun di sukai di kalangan masyarakat.

“Setahu saya, beliau orangnya sangat baik, memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi didalam melaksanakan tugas dan peduli terhadap keadaan lingkungan sekitar. Selain itu, setiap saran dan masukan senantiasa dikaji dan dipertimbangkan, dan dia menjadi figur pemimpin yang dapat menganyomi,” ungkapnya.

===***===

Staf Asda III, Ani Komalasari

Tipe pemimpin yang baik, memiliki tanggung jawab sebagai pimpinan terhadap staf nya. “Jika ada masalah, beliau selalu memberikan masukan dan selalu melakukan rundingan, untuk mencari solusi bersama-sama,” tuturnya.

Musyarah bagi beliau selalu menjadi prioritas. Bagi say, Dudun adalah pemimpin yang tidak terlalu banyak aturan, yang penting bagi dia tidak menyalahi aturan. “Beliau pun di kenal sangat teliti, baik terhadap surat-surat maupun yang lainnya,” ungkapnya.

===***===

Masyarakat Cianjur,  Bambang Hendarsyah

Bagi saya, Dudun merupakan salah satu figur pemimpin yang taat dan loyal. Kesehariannya yang sederhana membuat sosok beliau mudah bergaul dan disukai oleh semua lapisan.

“Taat terhadap peraturan dan selalu menjunjung tinggi norma-norma agama dalam kehidupannya. Menjadi figur yang bijaksana dan murah senyum pun sosok beliau terlihat ramah dan menyenangkan,” ujarnya.

Seketika bangsa ini mulai dibiasakan oleh Tuhan dengan serentetan bencana. Sepuluh tahun terakhir, bisa disebut sebagai dasawarsa Bencana. Bahkan disaat tulisan ini dibuat, negeri yang perpenduduk mayoritas Islam ini, sedang dirundung ‘bencana keadilan’ terkait dengan kontroversi kasus KPK, POLRI dan KEJAGUNG, yang secara substantive lebih berbahaya dibanding bencana alam laninnya. Beragam ulasan dan perspektif dibangun oleh semua kalangan, tentang bagaimana menyikapi situasi yang serba rugi dan duka ini. Dalam konteks bencana (gempa, banjir, tsunami, pesawat jatuh, kelaparan, longsor dan lain sebagainya), menyiratkan juga sebuah pertanyaan teologis yang menuntut nalar epistemologis kita untuk mendedah dan menelaahnya. Sehingga dalam lanskap berfikir ke-NU-an dengan teologi Asy’ariah, saya dengan segala kekurangan dan kelemahan menemukan sederet pertanyaan, bahwa “apakah bencana itu mahluk Tuhan atau bukan?, kalaupun ia mahluk, lalu bagaimana hubungannya dengan kemahlukan manusia dengan statusnya sebagai Khalifah di muka bumi”? (QS ; Albaqarah, 23)
Lalu apakah dengan segala kecerdasan dan kehebatan manusia, mampu meniadakan, menghancurkan bahkan memusnahkan bencana dari sisi kehidupan manusia? Teologi Asy’ariah telah menjawab tuntas hal ini. Selain Tuhan, semua yang sesuatu itu adalah mahluk. Bahwa karena bencana adalah mahluk Tuhan, sehingga amarah terhadap bencana indentik dengan menghindari kehendak dan kekuasaan Tuhan.
Dalam pandangan sufistik, kehadiran musibah, penganiayaan atau kematian, justru disikapi dengan ungkapan alhamdulillah, dilanjutkan dengan innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Memuji kebesaran dan kekuasaan Tuhan atas segala sesuatu, bahwa DIAlah yang paling berhak atas semuanya ini. Segalanya dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Bersabar dan ikhlas menerima segala ketentuan Tuhan termasuk bencana, di sisi lain dianggap sebagai salah satu cara Tuhan meningkatkan dan mengangkat derajat kemanusiaan di hadapan Tuhan. Olehnya, pada tataran tertentu bencana yang telah begitu seringkali menimpa bangsa ini, dengan korban jiwa dan material yang tak terhitung jumlahnya, tidak selamanya harus diratapi apalagi menjadi manusia fatalistik, akan tetapi bencana pun mampu menjadi media untuk meningkatkan proses pengenalan dan kesepahaman kita dengan Tuhan.
Namun masalahnya, dampak yang ditimbulkan oleh bencana, tidak serta merta selesai dengan sikap mengembalikannya pada Tuhan. Erich From menyebut sikap seperti ini sebagai bentuk escape from freedom, lari dari kebebasan. Bukankah segala kerusakan di langit dan di bumi terjadi akibat kelalaian manusia itu sendiri? Sebuah refleksi cultural masa lalu, dimana Orang tua kita sering kali melarang dengan dogmatisasi ‘pemali’ melakukan aktivitas membawa dan mencuci peralatan dapur di sungai. Pesannya, bahwa “penjaga sungai akan marah bahkan bisa mencelakaimu”. Sepintas dengan nalar seorang anak yang masih kecil, mempercayainya dan ikut mewariskan pesan itu kepada generasinya. Hemat saya, ini merupakan cara moyang kita mengapresiasi dan menjaga kelestarian dan kelangsungan hidup ekosistem dan seluruh elemen yang berkepentingan pada sungai. Sisa makanan dan minuman yang melengket pada peralatan dapur dikhawatirkan dapat meracuni mahluk hidup di sungai dan akan mengotori kebersihan air sungai. Pesan tersebut seharusnya mensugesti cara pandang kita di masa kini, bahwa jika sisa makanan dan minuman saja tidak diperbolehkan mengotori sungai, seharusnya pembabatan hutan dan penumpukan sampah di hulu dan hilir tidak dilakukan. Karena secara perlahan tapi pasti dapat menimbulkan ketidak-seimbangan kehidupan manusia itu sendiri.
Sejarah perkembangan peradaban manusia pada mulanya memiliki sikap dan kepercayaan akan ketertundukan dan ketergantungannya pada alam. Para arkeolog dan filolog (peneliti teks-teks kuno) menunjukkan bahwa manusia sangat takut dan begitu memuliakan alam. Bahkan sebagian diantaranya rela dijadikan sebagai persembahan (dibunuh) dengan tujuan agar alam tidak ‘marah’ dan kehidupannya tetap bisa berjalan normal. Ritual ini dilakukan ketika terjadi bencana seperti gunung meletus, banjir, hasil tanamannya rusak dan lain sebagainya. Sistem kepercayaan seperti ini disebut animisme atau dinamisme. Sebuah kepercayaan yang menjadikan unsur-unsur alam sebagai ‘Tuhan’. Seiring dengan perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, peradaban kita terjebak pada cara pandang yang materialis pragmatis. Kita justru ingin menaklukkan alam dan menjinakkan alam. Sehingga prilaku mengeksploitasi alam demi kepentingan dan keuntungan serta laju pembangunan cenderung merusak eksistensi alam yang seharusnya diposisikan sebagai mitra kemanusiaan yang berhak diperlakukan secara manusiawi.
Era yang biasa disebut era globalisasi ini, dimana alam semesta dipandang sebagai small village (kampung kecil), memang tidak lagi menjadikan alam sebagai ‘Tuhan’, tetapi secara radikal dijadikan sebagai ‘budak-budak’ pelayan hasrat manusia. Bencana sebagai salah satu elemen kehidupan di muka bumi adalah ‘bentuk protes dan rintihan alam’ kepada Tuhan, bahwa posisi manusia sebagai khalifah telah terdistorsi. Sehingga banjir bandang, tsunami, kebakaran, longsor beserta segala bentuk bencana kemanusiaan, adalah cara Tuhan memediasi ekspresi alam guna menyapa kelalaian manusia pada tugas dan fungsinya sebagai khalifah, sebagai agen of universe (agen alam semesta).
Manusia sebagai agen of universe, meminjam istilah Thomas Kuhn dalam adalah sebuah paradigma terhadap alam beserta seluruh mahluk, baik yang nampak maupun yang tidak, sebagai sesuatu yang interdependensi (saling ketergantungan), memiliki nilai dan manfaat bagi kepentingan manusia dan kemanusiaan. Manusia sebagai ciptaan adalah mahluk yang paling mulia diantara semua ciptaan Tuhan. Amanah yang diembannya sangat besar dalam memelihara harmonisasi alam semesta. Dimana paradigma ini secara ontologis melampaui eksistensi manusia sebagai agen of social (agen masyarakat). Karena pengabdiannya terbatas hanya pada ranah social kemasyarakatan. Sedangkan manusia sebagai agen alam semesta dituntut memadukan aspek kasih sayang Tuhan dengan statusnya sebagai khalifah dalam mengabdi pada segala ciptaan, mengabdi untuk semua..
Untuk itu, hemat saya, bahwa setiap cara kita menyikapi bencana, tidaklah cukup hanya melakukan rehabilitasi pisik prasarana maupun rehabilitasi sosial psikologis. Karena yang juga tak kalah pentingnya adalah melakukan rehabilitasi paradigma terhadap keberadaan bencana dengan segala yang ditimbulkannya. Paradigma manusia sebagai agen of universe merupakan penjabaran prilaku kemanusiaan, baik agamawan, pejabat publik, politisi, pengusaha, aktivis pemuda dan mahasiswa maupun elemen masyarakat lainnya untuk berperan dengan posisi yang berbeda demi kemaslahatan dan kebajikan ber-sesama. Kemaslahatan dan kebajikan yang tidak bias dalam dikotomi kepentingan mereka dan kami. Namun diikat oleh spiritualitas ke-kita-an selaku sesama mahluk Tuhan di muka bumi.
Bencana memang sesuatu yang niscaya bagi alur sejarah kehidupan manusia. Sebagaimana niscayanya Kemurahan Tuhan yang melimpahkan ilmu-Nya kepada manusia untuk melahirkan rumusan strategis menyangkut penanggulangan bencana. Sehingga kehadiran bencana dibumi ini telah menggugat kekhalifaan umat manusia Jika memang demikian, lalu mengapa yang kecil dan yang lemah pun harus ikut menjadi korban? Wallahu a’lam.

“HARI sudah siang, matahari tepat berada di atas kepala. Namun, Supriyadi (30), masih asyik menikmati tayangan televisi, sambil menanti cucian yang dijemurnya kering. Supriyadi terpaksa mengerjakan pekerjaan rumah tangga karena ia menganggur. Hidup Supriyadi sepenuhnya bergantung pada isterinya yang bekerja sebagai buruh garmen di Kota Tangerang” (Kompas, 26/8/06).
Penggalan kisah Supriyadi di atas adalah potret buram kebanyakan nasib anak muda negeri ini. Jika kita menilik dari sisi demografis, pemuda sesunguhnya adalah strata sosial yang berada pada fase usia paling dinamis dan produktif.
Ditinjau dari sisi historis, pemuda adalah sebuah entitas yang telah membuktikan dirinya sebagai aktor penting perubahan sosial (agent of social changes). Pemuda 08’ misalnya, berhasil memupuk bibit nasionalisme Indonesia, pemuda angkatan 28’ sukses menggalang ideologi persatuan nasional, dan pemuda angkatan 45’ berhasil mewujudkan cita-cita kemerdekaan bangsa.
Namun di era industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi tinggi saat ini, eksistensi pemuda lebih dilihat sebagai beban ketimbang harapan. Banyaknya pemuda yang putus sekolah, menganggur, dan bekerja serabutan adalah fakta yang sulit dibantah.
Di Asia Tenggara, dalam sepuluh tahun terakhir (1995-2005), jumlah generasi muda usia 15-24 tahun yang menganggur berjumlah 85 juta orang (meningkat 15 persen). Saat ini, sekitar 300 juta pemuda diprediksi hidup dengan penghasilan kurang dari dua dolar AS per hari (”Global Employment Trends for Youth”, ILO, 2006)
Data Survei Tenaga Kerja Nasional (Sakernas) pada Februari 2006 menunjukkan, jumlah angkatan kerja tercatat 106,3 juta jiwa, sementara kesempatan kerja yang tersedia hanya 95,2 juta jiwa. Artinya, 11,1 juta jiwa atau 10,4 persen angkatan kerja—yang umumnya berusia muda—tergolong penganggur (Kompas, 8/9/06).
Data Kementerian Negara Pemuda dan Olah Raga (2008) juga mencatat, dari 220 juta jiwa jumlah penduduk Indonesia, sekitar 80,6 juta orang adalah pemuda. Namun, 10,8 juta pemuda yang berusia antara 15-35 berstatus sebagai menganggur (baik terbuka maupun terselubung). Kondisi ini terjadi akibat rendahnya kesempatan kerja dan kurangnya upaya wirausaha dari kalangan pemuda (Detikcom, 11/06/08).
Rendahnya Tingkat Partisipasi Angkatan kerja (TPAK) ini diakibatkan oleh banyaknya penduduk usia kerja yang kembali sekolah, mengurus rumah tangga, atau bekerja serabutan. Di dalamnya termasuk korban pemutusan hubungan kerja (PHK) dan orang yang menyerah mencari kerja. Seandainya kelompok ini dimasukkan sebagai kategori “pencari kerja”, maka angka pengangguran tentu akan lebih fantastis lagi. Data bulan Agustus 2002-Februari 2006 menunjukkan, jumlah kelompok ini telah mencapai angka 740.000-1,5 juta orang (Kompas, 15/4/06).
Situasi ini jelas membingungkan. Di tengah SDM pemuda yang melimpah, bukan produktivitas nasional yang tumbuh, tapi pengangguran dan kemiskinan. Fenomena di atas memberi gambaran pada kita, betapa pemerintah belum memiliki agenda pembangunan kepemudaan yang jelas, terutama terkait skenario di sektor pendidikan dan pengembangan sumberdaya manusia pemuda.
Menurut data BPS (2008), dari 100 penduduk Indonesia terdapat 15 orang miskin. Artinya, secara total masih ada 35.000.000 penduduk miskin. Kendati Presiden SBY menyebut jumlah kemiskinan tahun 2008 merupakan jumlah terendah selama 10 tahun terakhir, namun data BPS menunjukkan, perbedaan angka jumlah orang miskin tahun 2004 dan tahun 2008 hanya 100.000 jiwa. Jika tahun 2004 dana pemerintah untuk pengentasan kemiskinan berjumlah Rp 19 triliun, kini dana penanggulangan kemiskinan mencapai empat kali lipatnya.
Jika kondisi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin situasi pengangguran masif yang pernah dialami AS pada 1930-an akan terjadi di negeri ini. Saat itu, rakyat dan pemerintah AS menghadapi problem pelik: lemahnya daya beli rakyat, pengangguran dan PHK massal, meluasnya kemiskinan, dan kebangkrutan usaha dimana-mana.
Menghadapi situasi itu, Presiden Franklin Delano Rosevelt meluncurkan paket kebijakan ekonomi New Deal. Kebijakan ini berinti pada pebukaan lapangan kerja secara besar-besaran. Dam, pembangkit listrik, rel kereta api, jembatan, sekolah, kantor pos, dan berbagai infrastruktur baru dibangun dengan pola padat karya. Pemuda yang menganggur dikerahkan untuk membersihkan pantai, memperbaiki drainase, mengerjakan proyek reboisasi, hingga membangun berbagai fasilitas sosial. Hasilnya, ekonomi pulih, fasilitas infrastruktur membaik, dan problem pengangguran masif bisa terpecahkan.
Kebijakan FDR, seyogyanya memberi inspirasi pada elite kita, bahwa kebijakan negara yang pro-pemuda sesungguhnya bisa memerankan pemuda sebagai tulang-punggung pembangunan ekonomi bangsa. Masalahnya, hingga kini, belum terlihat upaya serius pemerintah membuat peta jalan pemberdayaan ekonomi pemuda dengan memanfaatkan potensi besar yang ada pada puluhan juta pemuda kita.
Dalam kerangka itu, kita juga menyangsikan penyelesaian problem kepemudaan terkait agenda program percepatan kerja 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II seperti terekam dalam “rembuk nasional” (National Summit) yang digelar pemerintah beberapa waktu lalu. Forum ajang rembuk nasional—yang dihadiri presiden, wakil presiden, para menteri dan seluruh instansi pemerintah pusat dan daerah, pengusaha serta para pemangku kepentingan (stakeholder) lainnya itu—ditujukan untuk mengidentifikasi problem-problem penting di bidang politik, hukum, keamanan, ekonomi, dan kesejahteraan yang menjadi target kerja KIB II, di samping ratusan masukan dari stakeholder untuk dijadikan rekomendasi dalam penentuan target program kerja 100 hari pertama pemerintah.
Namun, indentifkasi yang terkait dengan agenda reformasi kebijakan negara di bidang kepemudaan masih bersifat normatif, seperti penyelesaian masalah kemiskinan, perbaikan kesempatan kerja, pelayanan kesehatan atau reformasi pendidikan (yang mencakup peningkatan kualitas lulusan terbaik, peningkatan pendidikan dasar 9 tahun, penyediaan bantuan operasional sekolah/BOS yang efektif dan akuntable, peningkatan kesempatan lulusan SD/MI keluarga miskin untuk melanjutkan ke SMP, peningkatan mutu proses pembelajaran, peningkatan kualitas dan distribusi guru, peningkatan kompetensi guru, dan lain-lain).
Identifikasi agenda pembangunan kepemudaan yang strategis dan visioner tidak tercantum secara tegas dan lugas dalam National Summit, seperti bagaimana arsitektur regenerasi kepemimpinan nasional dalam lima tahun ke depan atau bagaimana menempatkan peran generasi muda secara proporsional dalam agenda pembangunan ekonomi, politik, sosial, dan budaya bangsa. Ini pertanyaan penting, mengingat pemerintah hingga kini tak memiliki rumusan dan target pencapaian yang jelas terkait affirmatif action peran pemuda dalam agenda pembangunan bangsa.
Jalan demokratisasi yang telah kita rintis dengan susah payah semestinya bisa menghadirkan peran generasi muda yang lebih berkualitas dalam konteks pembangunan bangsa. Tanpa itu, agenda demokratisasi hanya akan menjadi milik kaum tua dan mapan, dus memposisikan kaum muda lebih sebagai “beban” ketimbang “harapan bangsa”. Sejarah dunia dan sejarah republik ini membutktikan, tidak ada perubahan berarti yang akan dilalui satu bangsa tanpa peran dan kiprah anak muda.
Makna “Sumpah Pemuda” pada akhirnya bemuara pada sejauh mana negara bisa memberi peran yang layak atas generasi ini. Sebab, sulit mengharapkan demokrasi, kesejahteraan, dan keadilan sosial bisa berdiri tegak di tengah langkanya kreatifitas, inovasi, dan produktivitas orang muda.

apa yang sedang kau lakukan

Download Materi KKPI

Pusat Download TKJ

Silahkan Klik saja :

Download Naskah MOU

AYAH JUGA LUPA

18.jpg

Dengar, Nak : Ayah mengatakan ini pada saat kau terbaring tidur, sebelah tangan kecil merayap dibawah pipimu dan rambutmu yang keriting pirang lengket pada dahimu yang lembap. Ayah menyelinap masuk seorang diri kekamarmu. Baru beberapa menit yang lalu,  ketika Ayah sedang membaca Koran diruang perpustakaan, satu sapuan sesal yang amat dalam  menerpa. Dengan perasaan bersalah ayah datang masuk menghampiri pembaringanmu.

Ada hal – hal yang ayah pikirkan, Nak : Ayah selama ini bersikap kasar  kepadamu. Ayah membentakmu ketika kau hendak berpakaian pergi ke sekolah karena kau Cuma menyeka mukamu sekilas  dengan handuk. Lalu Ayah lihat kau tidak membersihkan sepatumu. Ayah berteriak marah tatkala kau melempar beberapa barangmu ke lantai.

Saat makan pagi Ayah juga menemukan beberapa kesalahan. Kau meludahkan makananmu. Kau meletakan sikumu diatas meja. Kau mengoleskan  mentega terlalu tebal di rotimu. Dan begitu kau baru mulai bermain dan Ayah berangkat mengejar kereta api, kau berpaling dan melambaikan tanganmu sambil berseru, “Selamat jalan, ayah!” dan Ayah mengerutkan dahi, lalu menjawab, “Tegakkan dahimu!”

Kemudian  semua itu berulang lagi pada sore hari. Begitu ayah muncul dari jalan, Ayah segera mengamatimu dengan  cermat, memandang hingga lutut, memandangmu yang sedang bermain kelereng. Ada lubang – lubang pada kaus kakimu. Ayah menghinamu didepan  kawan-kawanmu, lalu menggiringmu untuk pulang kerumah. Kaus kaki mahal – dan  kalau kau yang harus membelinya, kau akan lebih berhati-hati! Bayangkan itu, Nak, itu keluar dari pikiran seorang Ayah!

Apakah kau ingat, nantinya, ketika ayah sedang membaca diruang perpustakaan, bagaimana kau datang dengan perasaan takut, dengan rasa terluka  dalam matamu? Ketika ayah terus memandang Koran, tidak sabar dengan gangguanmu, kau jadi ragu-ragu didepan pintu. “kau mau apa?” semprot Ayah.

Kau tidak berkata sepatahpun, melainkan berlari melintas dan melompat kearah Ayah, kau melemparkan tanganmu melingkari leher saya dan mencium Ayah, tangan – tanganmu yang kecil semakin erat  memeluk dengan hangat, kehangatan yang telah Tuhan tetapkan untuk  mekar dihatimu dan yang bahkan pengabaian sekalipun tidak akan mampu melemahkannya. Dan kemudian kau pergi, bergegas menaiki tangga.

Nah, Nak, sesaat setelah itu Koran jatuh dari tangan Ayah, dan satu rasa takut yang menyakitkan menerpa Ayah, kebiasaan apa yang sudah ayah lakukan? Kebiasaan dalam menemukan kesalahan, dalam mencerca – ini adalah hadiah ayah untukmu sebagai anak lelaki. Bukan berarti ayah tidak mencintaimu ; ayah lakukan ini karena ayah berharap terlalu banyak dari masa mudamu. Ayah sedang  mengukurmu dengan kayu pengukur dari tahun – tahun ayah sendiri.

Dan sebenarnya begitu banyak hal yang baik dan benar dalam sifatmu. Hati munggil milikmu sama besarnya dengan fajar yang memayungi bukit-bukit luas. Semua ini kau tunjukan dengan sikap spontanmu saat kau menghambur masuk dan  mencium Ayah sambil mengucapkan selamat tidur. Tidak ada masalah lagi malam ini, Nak. Ayah sudah datang ketepi pembaringanmu dalam kegelapan. Dan ayah sudah berlutut disana, dengan rasa malu!

Ini adalah sebuah   rasa tobat yang lemah; ayah tahu kau tidak akan mengerti ini  kalau ayah sampaikan  kepadamu saat kau terjaga. Tapi esok hari Ayah akan menjadi ayah sejati! Ayah akan bersahabat karib denganmu, dan ikut menderita ketika kau menderita, dan tertawa bila kau tertawa. Ayah akan  menggigit lidah Ayah kalau  kata-kata tidak sabar keluar dari mulut ayah. Ayah akan terus mengucapkan kata ini seolah-olah sebuar ritual: “Dia Cuma seorang anak kecil—anak laki-laki kecil!

Ayah sudah khawatir sudah membayangkanmu sebagai seorang lelaki. Namun, saat ayah memandangmu sekarang, Nak,meringkuk berbaring dan letih dalam tempat tidurmu, Ayah lihat bahwa kau masih seorang bayi. Kemarin kau masih dalam gendongan ibumu, kepalamu berada dibahu ibumu. Ayah sudah meminta terlalu banyak, sungguh terlalu banyak.

Sebagai ganti dari mencerca orang, mari kita coba untuk mengerti mereka. Mari kita berusaha mengerti mengapa mereka lakukan apa yang mereka lakukan. Hal itu jauh lebih bermanfaat dan menarik minat daripada kritik; dan melahirkan simpati, toleransi dan kebaikan hati. “Untuk benar – benar mengenal semua, kita harus memaafkan semua.”

Seperti yang dikatakan Dr. Johnson: “Tuhan sendiri tidak menghakimi orang sehingga tiba pada akhir hari-harinya.”

Mengapa saya dan anda harus melakukannya?

 

Oleh. Drs. Helpian Purnama

 

Pendidikan Bahasa Indonesia merupakan salah satu aspek penting yang perlu diajarkan kepada para siswa di sekolah. Tak heran apabila mata pelajaran ini kemudian diberikan sejak masih di bangku SD hingga lulus SMA. Dari situ diharapkan siswa mampu menguasai, memahami dan dapat mengimplementasikan keterampilan berbahasa. Seperti membaca, menyimak, menulis, dan berbicara. Kemudian pada saat SMP dan SMA siswa juga mulai dikenalkan pada dunia kesastraan. Dimana dititikberatkan pada tata bahasa, ilmu bahasa, dan berbagai apresiasi sastra. Logikanya, telah 12 tahun mereka merasakan kegiatan belajar mengajar (KBM) di bangku sekolah. Selama itu pula mata pelajaran Bahasa Indonesia tidak pernah absen menemani mereka.

Tetapi, luar biasanya, kualitas berbahasa Indonesia para siswa yang telah lulus SMA masih saja jauh dari apa yang dicita-citakan sebelumnya. Yaitu untuk dapat berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.Hal ini masih terlihat dampaknya pada saat mereka mulai mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Kesalahan-kesalahan dalam berbahasa Indonesia baik secara lisan apalagi tulisan yang klise masih saja terlihat. Seolah-olah fungsi dari pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah tidak terlihat maksimal. Saya penah membaca artikel dosen saya yang dimuat oleh harian Pikiran Rakyat. Dimana dalam artikel tersebut dibeberkan banyak sekali kesalahan-kesalahan berbahasa Indonesia yang dilakukan oleh para mahasiswa saat penyusunan skripsi. Hal ini tidak relevan, mengingat sebagai mahasiswa yang notabenenya sudah mengenyam pendidikan sejak setingkat SD hingga SMU, masih salah dalam menggunakan Bahasa Indonesia.

Lalu, apakah ada kesalahan dengan pola pengajaran Bahasa Indonesia di sekolah? Selama ini pengajaran Bahasa Indonesia di sekolah cenderung konvesional, bersifat hafalan, penuh jejalan teori-teori linguistik yang rumit. Serta tidak ramah terhadap upaya mengembangkan kemampuan berbahasa siswa. Hal ini khususnya dalam kemampuan membaca dan menulis. Pola semacam itu hanya membuat siswa merasa jenuh untuk belajar bahasa Indonesia. Pada umumnya para siswa menempatkan mata pelajaran bahasa pada urutan buncit dalam pilihan para siswa. Yaitu setelah pelajaran-pelajaran eksakta dan beberapa ilmu sosial lain. Jarang siswa yang menempatkan pelajaran ini sebagai favorit. Hal ini semakin terlihat dengan rendahnya minat siswa untuk mempelajarinya dibandingkan dengan mata pelajaran lain. Saya menyoroti masalah ini setelah melihat adanya metode pengajaran bahasa yang telah gagal mengembangkan keterampilan dan kreativitas para siswa dalam berbahasa. Hal ini disebabkan karena pengajarannya yang bersifat formal akademis, dan bukan untuk melatih kebiasaan berbahasa para siswa itu sendiri.

Pelajaran Bahasa Indonesia mulai dikenalkan di tingkat sekolah sejak kelas 1 SD. Seperti ulat yang hendak bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. Mereka memulai dari nol. Pada masa tersebut materi pelajaran Bahasa Indonesia hanya mencakup membaca, menulis sambung serta membuat karangan singkat. Baik berupa karangan bebas hingga mengarang dengan ilustrasi gambar. Sampai ke tingkat-tingkat selanjutnya pola yang digunakan juga praktis tidak mengalami perubahan yang signifikan. Pengajaran Bahasa Indonesia yang monoton telah membuat para siswanya mulai merasakan gejala kejenuhan akan belajar Bahasa Indonesia. Hal tersebut diperparah dengan adanya buku paket yang menjadi buku wajib. Sementara isi dari materinya terlalu luas dan juga cenderung bersifat hafalan yang membosankan. Inilah yang kemudian akan memupuk sifat menganggap remeh pelajaran Bahasa Indonesia karena materi yang diajarkan hanya itu-itu saja.

Saya mengambil contoh dari data tes yang dilakukan di beberapa SD di Indonesia tentang gambaran dari hasil pembelajaran Bahasa Indonesia di tingkat SD. Tes yang digunakan adalah tes yang dikembangkan oleh dua Proyek Bank Dunia, yaitu PEQIP dan Proyek Pendidikan Dasar (Basic Education Projects) dan juga digunakan dalam program MBS dari Unesco dan Unicef. Dari tes menulis dinilai berdasarkan lima unsur: tulisan tangan (menulis rapi), ejaan, tanda baca, panjangnya karangan, dan kualitas bahasa yang digunakan. Bobot dalam semua skor adalah tulisan (15%), ejaan (15%), tanda baca (15%), panjang tulisan (20%), dan kualitas tulisan (35%).

Hanya 19% anak bisa menulis dengan tulisan tegak bersambung dan rapih. Sedangkan 64% bisa membaca rapih tetapi tidak bersambung. Perbedaan antarsekolah sangat mencolok. Pada beberapa sekolah kebanyakan anak menulis dengan rapih, sementara yang lain sedikit atau sama sekali tidak ada. Ini hampir bisa dipastikan guru-guru pada sekolah-sekolah yang pertama yang bagus tulisannya secara reguler mengajarkan menulis rapi. Sementara sekolah-sekolah yang belakangan tidak.

Hanya 16% anak menulis tanpa kesalahan ejaan dan 52% anak bisa menulis dengan ejaan yang baik (sebagian besar kata dieja dengan benar), sementara lebih dari 30% dari kasus menulis dengan kesalahan ejaan yang parah atau sangat parah. 58 % anak memberi tanda baca pada tulisan mereka dengan baik (dikategorikan bagus atau sempurna), sementara itu lebih dari 35% kasus anak yang menulis dengan kesalahan tanda baca dan dikategorikan kurang atau sangat kurang.

58% siswa menulis lebih dari setengah halaman dan 44% siswa isi tulisannya yang dinilai baik, yaitu gagasannya diungkapkan secara jelas dengan urutan yang logis. Pada umumnya anak kurang dapat mengelola gagasannya secara sistematis

Alasan mengapa begitu banyak anak yang mengalami kesulitan dalam menulis karangan dengan kualitas dan panjang yang memuaskan serta dengan menggunakan ejaan dan tanda baca yang memadai ialah anak-anak di banyak kelas jarang menulis dengan kata- kata mereka sendiri. Mereka lebih sering menyalin dari papan tulis atau buku pelajaran. Dari data tersebut menggambarkan hasil dari KBM Bahasa Indonesia di SD masih belum maksimal. Walaupun jam pelajaran Bahasa Indonesia sendiri memiliki porsi yang cukup banyak.

Setelah lulus SD dan melanjutkan ke SMP, ternyata proses pengajaran Bahasa Indonesia masih tidak kunjung menunjukan perubahan yang berarti. Ulat pun masih menjadi kepompong. Kelemahan proses KBM yang mulai muncul di SD ternyata masih dijumpai di SMP. Bahkan ironisnya, belajar menulis sambung yang mati-matian diajarkan dahulu ternyata hanya sebatas sampai SD saja. Pada saat SMP penggunaan huruf sambung seakan-akan haram hukumnya, karena banyak guru dari berbagai mata pelajaran yang mengharuskan muridnya untuk selalu menggunakan huruf cetak. Lalu apa gunanya mereka belajar menulis sambung?

Seharusnya pada masa ini siswa sudah mulai diperkenalkan dengan dunia menulis (mengarang) yang lebih hidup dan bervariatif. Dimana seharusnya siswa telah dilatih untuk menunjukkan bakat dan kemampuannya dalam menulis: esai, cerita pendek, puisi, artikel, dan sebagainya. Namun, selama ini hal itu dibiarkan mati karena pengajaran Bahasa Indonesia yang tidak berpihak pada pengembangan bakat menulis mereka. Pengajaran Bahasa Indonesia lebih bersifat formal dan beracuan untuk mengejar materi dari buku paket. Padahal, keberhasilan kegiatan menulis ini pasti akan diikuti dengan tumbuhnya minat baca yang tinggi di kalangan siswa.

Beranjak ke tingkat SMA ternyata proses pembelajaran Bahasa Indonesiapun masih setali tiga uang. Sang ulat kini hanya menjadi kepompong besar. Kecuali dengan ditambahnya bobot sastra dalam pelajaran bahasa indonesia, materi yang diajarkan juga tidak jauh-jauh dari imbuhan, masalah ejaan, subjek-predikat, gaya bahasa, kohesi dan koherensi paragraf, peribahasa, serta pola kalimat yang sudah pernah diterima di tingkat pendidikan sebelumnya. Perasaan akan pelajaran Bahasa Indonesia yang dirasakan siswa begitu monoton, kurang hidup, dan cenderung jatuh pada pola-pola hafalan masih terasa dalam proses KBM.

Tidak adanya antusiasme yang tinggi, telah membuat pelajaran ini menjadi pelajaran yang kalah penting dibanding dengan pelajaran lain. Minat siswa baik yang menyangkut minat baca, maupun minat untuk mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia semakin tampak menurun. Padahal, bila kebiasaan menulis sukses diterapkan sejak SMP maka seharusnya saat SMA siswa telah dapat mengungkapkan gagasan dan ”unek-unek” mereka secara kreatif. Baik dalam bentuk deskripsi, narasi, maupun eksposisi yang diperlihatkan melalui pemuatan tulisan mereka berupa Surat Pembaca di berbagai surat kabar. Dengan demikian apresiasi dari pembelajaran Bahasa Indonesia menjadi jelas tampak prakteknya dalam kehidupasn sehari-hari. Bila diberikan bobot yang besar pada penguasaan praktek membaca, menulis, dan apresiasi sastra dapat membuat para siswa mempunyai kemampuan menulis jauh lebih baik Hal ini sangat berguna sekali dalam melatih memanfaatkan kesempatan dan kebebasan mereka untuk mengungkapkan apa saja secara tertulis, tanpa beban dan tanpa perasaan takut salah.

Setelah melihat pada ilustrasi dari pola pengajaran tersebut saya melihat adanya kelemahan – kelemahan dalam pengajaran Bahasa Indonesia di sekolah. KBM belum sepenuhnya menekankan pada kemampuan berbahasa, namun lebih pada penguasaan materi. Hal ini terlihat dari porsi materi yang tercantum dalam buku paket lebih banyak diberikan dan diutamakan oleh para guru bahasa Indonesia. Sedangkan pelatihan berbahasa yang sifatnya lisan ataupun praktek hanya memiliki porsi yang jauh lebih sedikit. Padahal kemampuan berbahasa tidak didasarkan atas penguasaan materi bahasa saja, tetapi juga perlu latihan dalam praktek kehidupan sehari-hari.

Selain itu, pandangan atau persepsi sebagian guru, keberhasilan siswa lebih banyak dilihat dari nilai yang diraih atas tes, ulangan umum bersama (UUB) terlebih lagi pada Ujian Akhir Nasional (UAN). Nilai itu sering dijadikan barometer keberhasilan pengajaran. Perolehan nilai yang baik sering menjadi obsesi guru karena hal itu dipandang dapat meningkatkan prestise sekolah dan guru. Untuk itu, tidak mengherankan jika dalam KBM masih dijumpai guru memberikan latihan pembahasan soal dalam menghadapi UUB dan UAN. Apalagi dalam UUB dan UAN pada pelajaran bahasa Indonesia selalu berpola pada pilihan ganda. Dimana bagi sebagian besar guru menjadi salah satu orientasi di dalam proses pembelajaran mereka. Akibatnya, materi yang diberikan kepada siswa sekedar membuat mereka dapat menjawab soal-soal tersebut, tetapi tidak punya kemampuan memahami dan mengimplementasikan materi tersebut untuk kepentingan praktis dan kemampuan berbahasa mereka. Pada akhirnya para siswa yang dikejar-kejar oleh target NEM-pun hanya berorientasi untuk lulus dari nilai minimal atau sekadar bisa menjawab soal pilihan ganda saja. Perlu diingat bahwa soal-soal UAN tidak memasukan materi menulis atau mengarang (soal esai).

Peran guru Bahasa Indonesia juga tak lepas dari sorotan, mengingat guru merupakan tokoh sentral dalam pengajaran. Peranan penting guru juga dikemukakan oleh Harras (1994). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di beberapa negara berkembang, termasuk Indonesia, dilaporkannya bahwa guru merupakan faktor determinan penyebab rendahnya mutu pendidikan di suatu sekolah. Begitu pula penelitian yang dilakukan International Association for the Evaluation of Education Achievement menunjukkan bahwa adanya pengaruh yang signifikan antara tingkat penguasaan guru terhadap bahan yang diajarkan dengan pencapaian prestasi para siswanya . Sarwiji (1996) dalam penelitiannya tentang kesiapan guru Bahasa Indonesia, menemukan bahwa kemampuan mereka masih kurang. Kekurangan itu, antara lain, pada pemahaman tujuan pengajaran, kemampuan mengembangkan program pengajaran, dan penyusunan serta penyelenggaraan tes hasil belajar. Guru Bahasa Indonesia juga harus memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran bahasa yang langsung berhubungan dengan aspek pembelajaran menulis, kosakata, berbicara, membaca, dan kebahasaan .Rupanya guru juga harus selalu melakukan refleksi agar tujuan bersama dalam berbahasa Indonesia dapat tercapai.

Selain itu, siswa dan guru memerlukan bahan bacaan yang mendukung pengembangan minat baca, menulis dan apreasi sastra. Untuk itu, diperlukan buku-buku bacaan dan majalah sastra (Horison) yang berjalin dengan pengayaan bahan pengajaran Bahasa Indonesia. Kurangnya buku-buku pegangan bagi guru, terutama karya-karya sastra mutakhir (terbaru) dan buku acuan yang representatif merupakan kendala tersendiri bagi para guru. Koleksi buku di perpustakaan yang tidak memadai juga merupakan salah satu hambatan bagi guru dan siswa dalam proses pembelajaran di sekolah perpustakaan sekolah hanya berisi buku paket yang membuat siswa malas mengembangkan minat baca dan wawasan mereka lebih jauh.

Menyadari peran penting pendidikan bahasa Indonesia, pemerintah seharusnya terus berusaha meningkatkan mutu pendidikan tersebut. Apabila pola pendidikan terus stagnan dengan pola-pola lama, maka hasil dari pembelajaran bahasa Indonesia yang didapatkan oleh siswa juga tidak akan bepengaruh banyak. Sejalan dengan tujuan utama pembelajaran Bahasa Indonesia supaya siswa memiliki kemahiran berbahasa diperlukan sebuah pola alternatif baru yang lebih variatif dalam pengajaran bahasa Indonesia di sekolah. Agar proses KBM di kelas yang identik dengan hal-hal yang membosankan dapat berubah menjadi suasana yang lebih semarak dan menjadi lebih hidup. Dengan lebih variatifnya metode dan teknik yang disajikan diharapkan minat siswa untuk mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia meningkat dan memperlihatkan antusiasme yang tinggi. Selain itu guru hendaknya melakukan penilaian proses penilaian atas kinerja berbahasa siswa selama KBM berlangsung. Jadi tidak saja berorientasi pada nilai ujian tertulis. Perlu adanya kolaborasi baik antar guru Bahasa Indonesia maupun antara guru Bahasa Indonesia dengan guru bidang studi lainnya. Dengan demikian, tanggung jawab pembinaan kemahiran berbahasa tidak semata-mata menjadi tanggung jawab guru Bahasa Indonesia melainkan juga guru bidang lain. Apabila, sistem pembelajaran Bahasa Indonesia yang setengah-setengah akan terus begini, maka metamorfosis sang ulat hanyalah akan tetap menjadi kepompong. Awet dan tidak berkembang karena pengaruh formalin pola pengajaran yang masih berorientasi pada nilai semata.

 

Silahkan Download

Presentasi Jardiknas berisi penjelasan-penjelasan  tentang tekhnis alur kerja Jardiknas  SILAHKAN KLIK Presentasi Jardiknas

Tulisan Sebelumnya »